PEMANFAATAN TEKNOLOGI DRONE UNTUK PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA DI PAPUA

  • Foto Penulis

    Posted By

    admin

  • Dipublikasi

    November 12, 2025

Malaria masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Papua, terutama di wilayah dengan tingkat penularan tinggi seperti Mimika. Upaya pengendalian saat ini masih menghadapi berbagai hambatan, khususnya dalam menangani penularan residual yang terjadi di luar ruangan, ketika nyamuk Anopheles mencari darah atau beristirahat. Pengendalian malaria yang efektif membutuhkan kombinasi strategi yang menargetkan baik nyamuk larva maupun dewasa. Kunci keberhasilannya adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memetakan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak larva nyamuk secara akurat.


Perkembangan terbaru dalam teknologi penginderaan jauh, terutama penggunaan drone, menawarkan peluang menjanjikan untuk mendukung upaya ini. Drone dapat menangkap citra lingkungan dengan resolusi sangat tinggi pada skala local, sesuatu yang sulit dicapai melalui citra satelit atau survei lapangan manual. Citra beresolusi tinggi ini dapat membantu mengidentifikasi genangan kecil yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk.


Sebuah workshop mengenai pemanfaatan drone telah diselenggarakan pada tanggal 20–24 Oktober 2025 di Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), Timika. Kegiatan ini diselenggarakan oleh SHIELD PAPUA bekerja sama dengan UNICEF Indonesia dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika. Lebih dari tiga puluh lima peserta hadir dari Kementerian Kesehatan, UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, puskesmas, Politeknik Kupang, YPMAK, Public Health and Malaria Control PT Freeport Indonesia, dan PERDHAKI.


Workshop ini menyegarkan kembali pengetahuan peserta mengenai:


  • Praktik pengendalian malaria dan surveilans vektor
  • Contoh penggunaan drone untuk memetakan habitat nyamuk, termasuk pengalaman dari Sabah dan Sarawak di Borneo
  • Pemahaman teknologi drone dan perangkat lunak untuk operasional
  • Pemeriksaan pra-penerbangan dan simulasi, termasuk pemeriksaan fisik dan sistem, kalibrasi kompas, pengecekan GPS, pengujian sensor, evaluasi kondisi lingkungan, serta simulasi lepas landas dan pendaratan
  • Latihan perencanaan misi, mulai dari menentukan area survei, menetapkan parameter penerbangan, mengecek kondisi cuaca, hingga mempersiapkan tim di lapangan


Penerbangan drone dilakukan di Pasar Sentral, salah satu wilayah dengan kasus malaria tertinggi di Mimika. Setelah kembali dari lapangan, peserta mempelajari cara menggabungkan dan menyiapkan citra untuk analisis lebih lanjut.


Ke depan, workshop ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan teknologi drone untuk memantau kondisi lingkungan yang berkaitan dengan penyakit seperti malaria, dengue, leptospirosis, dan diare. Dengan meningkatkan kemampuan mendeteksi dan memetakan area berisiko, pemetaan berbasis drone dapat membantu program kesehatan masyarakat menjadi lebih terarah dan efektif.

Go Back Top